Introvert Who Travels

Trekking ke Gunung Abang dan Waktu Yang Tepat Untuk Menengok ke Belakang

#travelingthroughyourarchives

Perjalanan trekking menuju puncak Gunung Abang (2,152 mdpl) di kawasan Kintamani, Bangli - Bali mengingatkanku akan waktu yang tepat untuk menengok ke belakang.

Hampir satu tahun lalu, aku menembus angin yang membawa hawa dingin bulan Juli. Arsip Instagram Story mencatat suhu di pos registrasi pendakian Gunung Abang pada dini hari pukul 02:12 mencapai 16 derajat celcius. Hari itu tanggal 7 Juli 2019 atau lebih keren: 070719. Aku suka menandai kombinasi tanggal cantik dengan melakukan sesuatu yang bisa dengan mudah diingat. Sebenarnya, aku punya pilihan untuk menunda pendakian itu satu minggu lagi, sehingga aku bisa berjalan mendaki di bawah sinar bulan purnama. Tetapi rupanya tanggal itu terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Lagian, pikirku, purnama terjadi setiap bulan.

Aku bukan seorang pendaki, bahkan untuk disebut orang yang suka main ke gunung pun masih belum layak. Kali terakhir aku menginjakkan kaki di puncak nun jauh di atas sana adalah tahun 2012. Itu pun pendakian yang relatif mudah, Gunung Batur (1,717 mdpl), yang terletak berdekatan dengan Gunung Abang. Tujuh tahun setelahnya, ide untuk trekking itu muncul begitu saja saat aku melihat postingan di Instagram, diikuti dengan riset kecil membaca puluhan blog, sampai aku merasa cukup yakin kondisi fisikku masih cukup fit untuk tantangan ini. Alasan lebih mendasar lagi sangat klise: patah hati. Berjalan sejauh mungkin di alam terbuka demi mendamaikan hati dan pikiran yang sedang mendung, menyembuhkan diri, melepaskan apa yang sudah terjadi dan berlalu sembari berharap pulang dengan kondisi mental yang lebih positif.

23:18 (Waktu sesuai data EXIF kamera - GMT +8).

Minimnya pengalaman bertahan hidup di alam terbuka sempat membuatku khawatir, hingga selama dua minggu persiapan (yang hanya diisi dengan jogging sore), aku berusaha mencari teman mendaki. Paling tidak, ada kawan bicara atau saling membantu kala ada kesulitan atau jika ada masalah kesehatan (kram, keseleo, etc). Nihil. Apa boleh buat. Toh, alasan aku merencanakan perjalanan ini bisa dibilang cukup personal. Kusiapkan diri sebaik mungkin, mulai dari mendownload peta pendakian ke Gunung Abang (terima kasih teknologi!), perbekalan berlebih, hingga meminta ‘pegangan’ dari seorang teman yang mengerti tentang hal-hal tak kelihatan. “Ini untuk situasi mendesak. Kalau hanya penampakan, usahakan jangan begerak. Kalau mahluk itu cukup berani mendekati bahkan mengejar, lemparkan barang ini ke arahnya,” begitu pesannya, kuingat baik-baik.

02:41

03:02

03:10

Dengan estimasi waktu pendakian sekitar 2-3 jam untuk mencapai puncak, terlalu awal memulai perjalanan pada pukul 2. Hampir pasti itu alasan tiga pemuda usia mahasiswa yang duduk berdiang di dekat api unggun di depan pos registrasi saat aku sampai di sana. Usai menyapa petugas penjaga, aku bergabung dengan ketiga pemuda itu, menghangatkan badan yang hampir membeku sepanjang satu setengah jam perjalanan motor dari Denpasar.

“Dari mana, bli?” tanyaku kepada seorang dari mereka, setelah mata kami beradu pandang.

“Dari Denpasar, mau naik bareng teman-teman ini. Sendirian aja nih, mas?”

“Iya, sendirian. Tadi ini dari Denpasar juga.” jawabku.

“Wah, niat sekali ya naik gunung sendirian.”

Komentarnya terdengar seperti sindiran atau sanjungan ditelingaku. Dalam suasana dingin menggigit kulit seperti ini, rasanya otakku butuh waktu lebih lama untuk mencerna dengan baik kata demi katanya. Hanya kujawab dengan senyum. Dan setelah itu kembali hening. Suara gemeretak kayu terbakar dan hembusan angin mengisi udara, seperti ada seseorang yang tiba-tiba mengeraskan volume suaranya.

Beberapa menit kemudian, satu lagi rombongan tiba. Kali ini dalam jumlah yang lumayan banyak, sekitar 8 orang. Aman, pikirku. Meski sendiri, namun aku tidak sendirian dalam perjalanan ini. Ada 2 rombongan yang akan mendaki dalam waktu bersamaan denganku. Selain itu, Info lain yang kudapat dari petugas jaga, ada sekitar 100 orang di dalam daftar dan saat ini berada di kawasan pendakian.

Sekitar pukul 3, kedua rombongan itu pamit kepada penjaga pos dan memulai perjalanan. Dimulai dari ketiga pemuda itu, lalu rombongan yang lebih besar, kemudian aku menguntit di belakang mereka. Hanya dalam hitungan menit, ketiga pendaki muda tadi menghilang dalam kegelapan. Kusesuaikan langkah kaki agar sorot senter masih bisa menangkap rombongan 8 orang tadi, yang tampaknya tak terlalu tergesa: beberapa dari mereka berjalan sambil mengobrol, bercanda, menyanyi. Hingga akhirnya aku berjalan beriringan dan berkenalan dengan salah satu dari rombongan itu, nampaknya yang tertua. Darinya aku tahu bahwa mereka adalah muda-mudi jemaat salah satu Gereja Kristen di Denpasar. Aku bersama dengan mereka sampai di pos check point yang pertama.

03:43

04:42. Pos pertama.

Mereka tampak semakin bersemangat untuk segera sampai puncak setelah melewati pos pertama, sementara tubuhku mulai bereaksi. Kaki terasa ngilu dan nafas terengah-engah. Saking seringnya berhenti untuk mengatur nafas di jalur yang mulai menanjak, aku mulai tertinggal. Aku masih bisa melihat sinar senter dan sayup-sayup suara mereka hingga pos kedua, namun setelah itu mereka pun menghilang. Kini, aku benar-benar sendiri dan kelelahan.

Hampir setiap 5 menit aku berhenti untuk merelelaksasi kontraksi otot di sepanjang kaki dan menormalkan nafas. Sembari mendongak melihat satu titik di ujung atas sana, aku berusaha mengumpulkan energi untuk melanjutkan. Sialnya, setelah pos dua ini tak nampak ada jalur landai. Terus menanjak. Setengah menyerah, dalam pikiranku mulai berulang-ulang terucap kalimat yang sudah aku persiapkan sebelum berangkat: It’s okay. Kamu sudah lama tidak mendaki. Kalau sudah tak sanggup lagi, turun nggak apa-apa.” Dalam setiap langkah, perasaanku mengecek setiap respon dari ujung kepala hingga kaki, mengevaluasi apakah aku harus berkata cukup atau terus melangkah.

Tas backpack di punggungku yang isinya tak seberapa pun makin terasa berat dan menjadi beban. Tiap kali berhenti dan melihat titik puncak, aku meyakinkan diri dan berharap jadi lebih kuat, macam tokoh-tokoh hero dalam film, yang tiba-tiba mendapat suntikan energi saat hampir kalah pertarungan. That didn’t work at all. Alih-alih tenagaku pulih, kini tak hanya ngilu, otot paha dan betis justru mulai bergetar saat melangkah.

06:50

Sudah sekitar pukul 6 pagi dan baru sekitar 3/4 perjalanan aku tempuh. I’m about to give up. Badanku sudah sakit semua dan mentalku sudah down. Masih sambil berdiri, aku membalikkan badan, memantapkan hati untuk menyudahi pendakian tanpa harus mencapai puncak. Apa yang ada di belakangku sesaat membuat terhenyak. Jika yang kulihat di depanku sepanjang perjalanan hanyalah belukar dan jalur yang terus menanjak, kini aku melihat pemandangan yang sungguh mendamaikan. Langit sudah biru dengan semburat jingga nun jauh di sana. Bayang ranting yang meliuk-liuk mulai menyeruak dari kegelapan.

Untuk sesaat, aku tak peduli lagi dengan puncak. Apa yang kulihat dari titik ini pun sudah melegakan. Rasanya aku sudah lupa bahwa kemarin perasaanku begitu tak menentu. Sebelumnya, aku berasumsi bahwa sepanjang perjalanan ini aku akan berjalan sambil bersedih, menangis, mengingat banyak peristiwa yang berujung pada perpisahan dan patah hati. Ternyata sama sekali tidak terjadi. Sejak berangkat, aku begitu fokus pada perjalanan, hingga tak sempat berpikir soal lain. Dan itu sangat melegakan, seperti segala beban pikiran tertinggal di tempat lain.

Lama aku berdiam di situ, cukup untuk mengeluarkan kamera dan mengambil beberapa foto, untuk duduk memandangi langit sembari berpikir kembali mengapa aku bisa sampai di sini. Entah berapa ratus atau berapa ribu jejak kaki yang telah kutinggalkan di belakang, mulai dari bawah sana. Sampai aku menyadari bahwa tanpa berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, tanpa momen pause ini, begitu mudah aku dapat terjebak dalam ketergesaan mengambil keputusan. Tanpa berhenti, bisa saja aku memaksa melangkah mencapai puncak, sampai pada titik fisik terlemah atau bahkan cidera, lalu kesulitan untuk turun. Tanpa berhenti, bisa saja aku menyerah begitu saja, balik badan, lalu memulai lagi semuanya dari titik nol di lain kesempatan. Berhenti sejenak memberiku waktu untuk melihat lagi semuanya, dengan lebih tenang dan waktu yang cukup, apakah perjalanan yang sedang ditapaki ini cukup worth untuk diselesaikan.

06:54

Akhirnya, kulanjutkan pendakian dengan ritme langkah yang lebih pelan demi mengatur energi. Kamera yang sejak semalam hanya kupakai sesekali saja kini aku tenteng. Sebisa mungkin kunikmati sisa perjalanan itu, karena aku tahu pasti akan sampai, meski lambat.

07:01

07:51

07:54

07:57

08:05

08:15

09:46

Pukul 8 pagi aku sampai puncak, setelah 4 jam lebih berjalan. Dalam segala kelegaannya, lama kupandangi Danau Batur di bawah sana dan Gunung Batur disisinya. Lalu, dengan sedikit ragu apa aku akan melakukannya atau tidak, karena jarang aku melakukan hal satu ini, aku meyakinkan diriku bahwa ini momen yang tidak biasa. Kuberanikan diri meminta bantuan sesama pendaki untuk mengambil foto portraitku.

10:47.

Saat menuliskan kembali perjalanan ini, di tengah situasi wabah pandemi virus COVID-19, beberapa detil perjalanan rupanya sudah samar dalam ingatan. Namun, momen membalikkan badan dan melihat ke belakang itu masih kuat tersimpan, seolah menjadi highlight pendakian solo itu. Menjadi pengingat pula ketika suatu hari nanti aku masuk lagi ke situasi sulit yang merayu untuk menyerah. Tak apa menyerah kala sudah cukup yakin bahwa yang sedang diperjuangkan tak lagi relevan. Selain alasan itu, bisa jadi yang diperlukan adalah cukup waktu untuk berhenti dan rehat.

Hati yang patah pun tak serta-merta pulih usai pendakian itu. Namun, dua hari tanpa merasakan perihnya sudah cukup menjadi jeda, sebuah momen kosong bagi penciptaan ruang batin yang lebih bersih dan lapang untuk menerima kesedihan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup.

Using Format