Introvert Who Travels

Saat Perahu Jukung Itu Melintas…

Sebuah perahu jukung melintas dikejauhan, dan untuk beberapa saat, memecah tenangnya
lautan di satu sore itu.

Aku yang duduk terdiam memandangi pemandangan tak bertepi itu pun ikut terusik. Satu tanya mengganggu momen aku berusaha lepas dari segala kerumitan dikepalaku dengan memandang laut, tanpa memikirkan apa pun. “Dari mana dan mau bersandar di mana perahu kecil berisikan 5-6 penumpang itu?”

Tentu saja aku tidak menemukan jawaban yang pasti dan benar. Hanya sebatas asumsi dan perkiraan berdasarkan informasi sangat terbatas: dari arah mana dia datang dan ke arah mana sedang menuju. Yang pasti, perahu itu berangkat dari satu titik daratan, sedang menuju ke titik daratan yang lainnya. Rasanya tak mungkin sebuah perahu meninggalkan daratan tanpa mempunyai tujuan. Bila demikian, maka ia hanya akan berputar-putar di tengah lautan sepanjang siang dan malam.

Ah, sial. Membayangkan ada perahu sedang berlayar mengarungi lautan tanpa tahu kemana ia akan bersandar setelahnya justru membawaku berpikir tentang mengapa aku di sini, duduk di atas batu karang ini, di kawasan Pantai Jerman, Bali, dan memandang lautan lepas. Sementara fisikku ada di sana, jiwaku serasa terombang di tengah samudera. Kelelahan, kebingugan mencari jalan pulang atau tempat berlabuh.

Jika hidup adalah sebuah perjalanan, tentu setiap orang yang melakukan perjalanan akan berangkat dari satu tempat menuju ke tempat yang lain. Tak ada perjalanan yang tanpa awal, dan tanpa tempat untuk dituju. Karena, untuk setiap perjalanan, selalu ada yang dicari atau dituju.

Ragaku masih di sana, di atas batu karang yang sama, namun jiwaku mendongak ke atas: melihat arah matahari, menengok susunan bintang, berharap kutemukan arah pulang atau sekadar tempat untuk bersandar.

Using Format